BI Ingin Perkuat Posisi Indonesia sebagai Produsen Kopi Terbesar Keempat Dunia

SURABAYA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) berupaya memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia melalui penyelenggaraan Java Coffee, Flavors and Festival (JCFF) 2026 di Surabaya, Jawa Timur.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur Rifki Ismal mengatakan Indonesia saat ini berada di peringkat keempat produsen kopi dunia, setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.
"Kalau kita lihat dari data, di dunia khusus untuk kopi, produsen kopi dunia ada empat dan Indonesia nomor empat," ujar Rifki di Surabaya, Sabtu (19/7/2026).
Menurut dia, produksi kopi Indonesia mencapai sekitar 780.000 ton per tahun. Jawa Timur menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Tanah Air dengan produksi sekitar 53.000 ton per tahun.
Sementara itu, produksi kopi di Jawa Tengah dan Jawa Barat masing-masing berada di kisaran 25.000 ton per tahun.
"Kopi di wilayah Jawa Timur itu termasuk yang paling tinggi dengan produksi 53 ribu ton, sedangkan Jawa Tengah dan Jawa Barat kurang lebih 25 ribu ton," kata Rifki.
Ia menilai besarnya potensi produksi tersebut perlu dioptimalkan untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar kopi global, terutama melalui peningkatan ekspor.
Rifki menjelaskan, mayoritas produsen kopi Indonesia berasal dari kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Karena itu, perluasan akses pasar dinilai akan memberikan dampak berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian.
Sebagai bentuk dukungan, BI menggelar JCFF 2026 yang menghadirkan berbagai agenda, mulai dari business matching hingga business coaching bagi pelaku UMKM.
Melalui kegiatan business matching yang berlangsung pada 17–19 Juli 2026 di Alun-Alun Kota Surabaya, BI mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli, baik dari dalam maupun luar negeri.
Rifki optimistis penyelenggaraan JCFF 2026 mampu melampaui capaian tahun sebelumnya. Pada JCFF 2025, festival tersebut dikunjungi sekitar 130.000 orang dengan nilai transaksi mencapai Rp 107 miliar selama tiga hari pelaksanaan.
Optimisme itu didukung keikutsertaan lebih dari 60 tenant UMKM, termasuk 41 UMKM kopi binaan Bank Indonesia serta pelaku usaha produk lain seperti cokelat, teh, herbal, dan rempah-rempah.
"Alhamdulillah, tahun lalu Rp 107 miliar. Tahun ini kami mengharapkan transaksinya lebih tinggi karena tidak hanya kopi, teh, dan cokelat, tetapi juga banyak produk lain yang kami libatkan," ujar Rifki.
Sebelumnya: Penarikan Manfaat JHT BPJS Ketenagakeraan Bisa Kena Pajak Progresif, Simak Aturannya
Selanjutnya: Buka Mubeslub Ormas MKGR, Bahlil Ajak Kader Bersiap untuk Pemilu 2029
Artikel Terkait
- Efek Messi, Rekor Baru Industri Taruhan AS
- INFOGRAFIK: Hoaks Bansos PKH Senilai Rp 1,5 Juta dari Kemensos, Cek Faktanya!
- Dampak Regrouping Sekolah Tanpa Kajian Matang, Guru Honorer hingga Siswa Miskin Terancam
- ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
- INFOGRAFIK: Hoaks Bansos PKH Senilai Rp 1,5 Juta dari Kemensos, Cek Faktanya!
- Kesaksian Penyintas KM Nurul Salsa Jadi Petunjuk Baru, Basarnas Fokus Cari Korban di Laut Flores
- Buntut Inggris Kalah, Trump Ikut-ikutan Semprot Tuchel
- KDMP Bukit Gado-gado Diklaim Strategis Meski Berada di Tanjakan dan Minim Lahan Parkir
